Djokovic Tersingkir di Roland Garros, Generasi Baru Bersiap
Novak Djokovic kalah dari remaja Brasil Joao Fonseca dalam lima set. Untuk pertama kalinya sejak era Open, tak ada mantan juara Grand Slam di 16 besar Roland Garros.
Novak Djokovic meninggalkan lapangan Philippe-Chatrier dengan air mata, Jumat lalu. Setelah bertarung selama 4 jam 53 menit, ia harus mengakui keunggulan petenis Brasil berusia 19 tahun, Joao Fonseca. Padahal, Djokovic sempat unggul dua set dan mengontrol pertandingan. Namun, dalam suhu 90 derajat Fahrenheit, ia akhirnya tumbang. Dalam wawancara usai laga, Djokovic mengaku tidak yakin akan kembali ke Roland Garros tahun depan.
Fonseca sendiri menyebut Djokovic sebagai idolanya. Ia mengaku tidak menyangka bisa membalikkan keadaan dari tertinggal dua set. "Saya hanya menikmati berada di lapangan. Sungguh menyenangkan," ujarnya. Fonseca menjadi remaja pertama yang mengalahkan Djokovic di turnamen mayor. Namun, Djokovic tetap memberikan perlawanan sengit, bahkan sampai muntah di lapangan dan mengalami kram tangan. Tidak ada aib dalam kekalahan ini, tetapi bagi petenis yang telah mendominasi selama dua dekade, momen ini terasa berat.
Yang lebih mengejutkan, tidak ada satu pun mantan juara Grand Slam yang tersisa di undian Roland Garros tahun ini. Jannik Sinner tersingkir di babak kedua, Carlos Alcaraz mundur karena cedera pergelangan tangan, sementara Daniil Medvedev dan Marin Cilic juga sudah angkat koper. Ini pertama kalinya dalam era Open (sejak 1968) tidak ada mantan juara Grand Slam yang mencapai babak 16 besar pada sebuah turnamen mayor. Dengan pensiunnya Roger Federer (2022) dan Rafael Nadal (2024), Djokovic menjadi yang terakhir dari era Big Three. Kini, era keemasan itu tampaknya benar-benar berakhir.
Kondisi cuaca di Paris pekan ini sangat ekstrem, dengan suhu di atas 90 derajat. Lapangan tanah liat tidak memberi ampun, memaksa para pemain mengeluarkan tenaga ekstra. Kini, pertanyaan besarnya adalah siapa yang akan menjadi juara? Alexander Zverev difavoritkan, meski ia punya catatan kurang baik di partai final. Casper Ruud juga kandidat kuat, namun ia sudah bermain sangat banyak di pekan pertama. Sementara itu, Felix Auger-Aliassime diam-diam mengintai dari setengah undian yang terbuka lebar. Pekan kedua dipastikan akan penuh kejutan.
Fonseca sendiri menyebut Djokovic sebagai idolanya. Ia mengaku tidak menyangka bisa membalikkan keadaan dari tertinggal dua set. "Saya hanya menikmati berada di lapangan. Sungguh menyenangkan," ujarnya. Fonseca menjadi remaja pertama yang mengalahkan Djokovic di turnamen mayor. Namun, Djokovic tetap memberikan perlawanan sengit, bahkan sampai muntah di lapangan dan mengalami kram tangan. Tidak ada aib dalam kekalahan ini, tetapi bagi petenis yang telah mendominasi selama dua dekade, momen ini terasa berat.
Yang lebih mengejutkan, tidak ada satu pun mantan juara Grand Slam yang tersisa di undian Roland Garros tahun ini. Jannik Sinner tersingkir di babak kedua, Carlos Alcaraz mundur karena cedera pergelangan tangan, sementara Daniil Medvedev dan Marin Cilic juga sudah angkat koper. Ini pertama kalinya dalam era Open (sejak 1968) tidak ada mantan juara Grand Slam yang mencapai babak 16 besar pada sebuah turnamen mayor. Dengan pensiunnya Roger Federer (2022) dan Rafael Nadal (2024), Djokovic menjadi yang terakhir dari era Big Three. Kini, era keemasan itu tampaknya benar-benar berakhir.
Kondisi cuaca di Paris pekan ini sangat ekstrem, dengan suhu di atas 90 derajat. Lapangan tanah liat tidak memberi ampun, memaksa para pemain mengeluarkan tenaga ekstra. Kini, pertanyaan besarnya adalah siapa yang akan menjadi juara? Alexander Zverev difavoritkan, meski ia punya catatan kurang baik di partai final. Casper Ruud juga kandidat kuat, namun ia sudah bermain sangat banyak di pekan pertama. Sementara itu, Felix Auger-Aliassime diam-diam mengintai dari setengah undian yang terbuka lebar. Pekan kedua dipastikan akan penuh kejutan.